HARTABUTA :
Sabtu, 14-6-2025.
BAGIAN V
Setatus Kekerabatan Versi Jawa dan Cara Memanggilnya Sebagai Bentuk Tata Krama/Etika/Sopan Santun/Achlaaqul Kariimah/Budi Pekerti Luhur
Pedoman :
Sehebat apapun, setinggi apapun & setop markotop apapun kondisi situasi Nasib Duniawi Kita, maka yang Namanya Keluarga Ya Tetap Keluarga. Kita harus tetap menjunjung tinggi hubungan kekerabatan, misalnya : Ketua RT, Ketua RW, Kepala Desa, Lurah, Camat, Bupati, Walikota, Gubernur, Menteri, Presiden, Ketua MPR, Ketua DPRD Tingkat “II, I & Pusat”, Kepala Sekolah Jenjang Manapun, Manager PT, Direktur PT, Eksportir Sukses, Importir Sukses, Kiyai Kampung, Kiyai Besar, Guru, Dosen, Rekto, Jenderal POLRI, Jendral TNI, Atletik Jawara Nasional dan Internasional, ART, TKW, TKI, Buruh Pabrik, Rakyat Jelata, dll.
Ø Tetap berkerabat meski Nasib hidupnya beda satu dengan yang lain dan tetap menjunjung tinggi praktek Achlaaqul Kariimah yang harus dipertanggungjawabkan kelak di hadapan ALLOOH SWT. Seumpama ada yang menjadi Ketua MPR, Presiden, Menteri, Gubernur, Wali Kota, Camat, Lurah/ Kepala Desa, Ketua RW, Ketua RT, KAPOLRI, KASAD TNI, Kiyai Sekelas (Kampung, Kabupaten, Propvinsi, Nasional, Internasional) lalu Mayoritas Keluarga menjadi Becakman, Sopirman, Mandor, Buruh Pabrik, Buruh Tani, Pedagang Kecil dll. Maka yang Namanya Keluarga Ya Tetap Keluarga dan harus saling hormat penuh kasih sayang dan panggil sesuai Setatus Kerabat : Mas, Mbakyu, Adik, Keponakan, Paklik, Bulik, Bude, Pakde, Mbah. Dalam etika Jawa pantangan memanggil lugas apa adanya alias jangkar sesuai Namanya masing-masing, misalnya : Amin menjadi Mas Amin, Aminah menjadi Mbakyu Aminah, Ipin menjadi Adik Upin, Upin menjadi Mas Upin, Arman menjadi Paklik/ Pakde Arman, Fathonah menjadi Bulik/ Bude Fathonah. Jikalau dipraktekkan tidak akan menurunkan derajat kehormatan duniawinya masing-masing. Etika Jawa tersebut selaras dengan HUKUM ISLAAM alias ISLAAMII.
Ø ALLOOH SWT juga sangat membenci Rendah Diri/Minder, Tidak Percaya Diri (PD), Merasa Paling Hina, Merasa Paling Melarat karena kesemuanya itu sebagai bentuk rasa tidak bersyukur kepadaNYA dan pengantar putus asa/putus harapan dari segala Ampunan, Rohmah, Taufiiq, Hidaayah dan ‘InaayahNYA yang berujung derita sengsara berkepanjangan baik Ketika hidup di Dunia maupun di Alam Aachiroh (Tengah-Tengah/Pangrantunan/Barzah, Raportan Padang Mahsyar, Titian Jembatan Shiroothol Mustaqiim & Neraka).
Ø ALLOOH SWT sangat membenci Riyaa”, ‘Ujub, Angkuh, Acuh Tak Acuh, Sombong, Sok Top Markotop yang ujung-ujungnya akan berbuat Adigang, Adigung, Adiguno & Dloolim kepada Siapapun dan Apapun karena itu semua sebagain pengantar musnahnya Segala Bentuk Kenikmatan, Ampunan, Rohmah, Taufiiq, Hidaayah dan ‘InaayahNYA yang berujung derita sengsara yang jauh lebih dahsyat berkepanjangan baik ketika tinggalkan Kehidupan Dunia maupun di Alam Aachiroh (Tengah-Tengah/Pangrantunan/Barzah, Raportan Padang Mahsyar, Titian Jembatan Shiroothol Mustaqiim & Neraka).
Ø Kita berada di titik tengah sajalah. Itu jauh lebih baik dan diridloi oleh ALLOOH SWT.
Urutan dari Generasi Keturunan Paling Bawah Menuju Generasi Yang Lebih Tinggi (Lebih Duluan Munculnya di Kehidupan Dunia) :
1. Anak
a. Bilamana Anak-Anak dari Bapak dan Ibu sudah menikah dan masing-masing punya Anak maka hubungan antar Anak bersetatus sebagai Saudara Misanan/Sepupu. Karena sesuai urutan tua muda, maka yang lebih tua dipanggil Kakang/Kakangmas/Kakak/Kakanda/Mas atau Mbakyu dan yang lebih muda dipanggil Adik/Adinda.
b. Anak Tertua disebut Anak Sulung (Mbarep) dan dipanggil Pakde oleh Anak Adiknya.
Ø Anak Termuda disebut Anak Ragil (Ruju/Mbunthit) dan dipanggil Paklik (Bapak Cilik) atau Bulik (Ibu Cilik) oleh Anak Kakaknya atau Mbakyunya.
Ø Urutan panggilan tersebut berlaku sampai kapanpun di mana yang dulunya urutan lebih tua maka tetap harus dituakan.
Ø Bilamana Sesama Saudara Sepupu suatu hari menikah dan sama-sama punya Anak maka setatusnya sebagai Saudara Mindoan/Duapupu.
Ø Bilamana Sesama Saudara Mindoan sudah dewasa dan punya Anak maka setatusnya sebagai Saudara Mentelon/Pertigaan.
Ø Selanjutnya Saudara (Mapat/Perempatan, Nglimo/Perlimaan, Ngenem/Perenaman, Mitu/Pertujuhan, Molu/Perdelapanan, Nyongo/Persembilanan, Nyepuluh/Persepuluhan, Nyuwelas/Persebelasan) dst.
2. Bapak & Ibu.
Ø Adiknya Bapak yang Lelaki dipanggil Paklik & yang Perempuan dipanggil Bulik.
Ø Kakak Lelaki Bapak dipanggil Pakde & yang Perempuan dipanggil Mbakyu.
Ø Adiknya Ibu yang Lelaki dipanggil Paklik & yang Perempuan dipanggil Bulik.
Ø Kakak Lelaki Ibu dipanggil Pakde & yang Perempuan dipanggil Mbakyu.
3. Mbah Kakung/Nang
Mbah Puteri/Dok
4. Mbah Buyut Kakung/Nang
Mbah Buyut Puteri
5. Mbah Canggah Kakung/Nang
Mbah Canggah Puteri/Dok
6. Mbah Wareng Kakung/Nang
Mbah Wareng Puteri/Dok
7. Mbah Udheg2 Kakung/Nang
Mbah Udheg2 Puteri/Dok
8. Mbah Gantung Siwur
Kakung/Nang
Mbah Gantung Siwur Puteri/Dok
9. Mbah Cicip Moning Kakung/ Nang
Mbah Cicip Moning Puteri/ Dok
10. Mbah Gropak Waton Kakung/Nang
Mbah Gropak Waton Puteri/Dok
11. Mbah Gropak Senthe
Kakung/Nang
Mbah Gropak Senthe Puteri/Dok
12. Mbah Petarangan Bobrok Kakung/Nang
Mbah Petarangan Bobrok Puteri/Dok
13. Mbah Debok Bosok Kakung/Nang
Mbah Debok Bosok Puteri/Dok
14. Mbah Galih Asem Kakung/Nang
Mbah Galih Asem Puteri/Dok
15.
Mbah Ampyang Kakung/Nang
Mbah Ampyang Puteri/Dok
16. Mbah Cumpleng Kakung/Nang
Mbah Cumpleng Puteri/Dok
17. Mbah Giyeng Kakung/Nang
Mbah Giyeng Puteri/Dok
18. Mbah Menyo-Menyo Kakung/Nang
Mbah Menyo-Menyo Puteri/Dok
19. Mbah Trah-Tumerah
Kakung/Nang
Mbah Trah-Tumerah Puteri/Dok
20. Leluhur/Nenekmoyang – Demikian pula berlaku untuk Generasi Pendahulu setelah itu hingga ke Nabii Adam Wa Hawwaa” ‘Alaihimas Salaam.






0 komentar:
Posting Komentar