Jumat, 13 Juni 2025

BAGIAN III. Pedoman Pokok Wajib Tentang Silsilah Keluarga & Nasab - SILSILAH BANII KH. SYUHADAA" & NYAI SYUHADAA" KAUMAN RENGEL-TUBAN-JAWA TIMUR

HARTABUTA :

Sabtu, 14-6-2025.

BAGIAN III


Pedoman Pokok Wajib Tentang Silsilah Keluarga & Nasab.

1. ‘Ibaadah sesuai Syarii’atul ISLAAM

Ø  Jaga silsilah nasab bukanlah untuk Adigang Adigung Adiguno namun dalam kerangka ‘Ibaadah kepadaNYA.

 

  Firman ALLOOH SWT di suuroh Adz Dzaariyaat 56 :

 

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

 

Tiada tujuan lain (AKU ALLOOH) telah menciptakan Jin & Manusia kecuali hanyalah agar Mereka menyembah kepadaKU.


2. Media ‘Ibaadah demi menjaga kehormatan Diri Sendiri, Keluarga & Leluhur Sewajarnya, Proporsional, Obyektif dan Professional & Selalu Menjunjung Tinggi/ Budi Pekerti Baik, Mulia & Luhur/ Achlaaqul Kariimah (أخلاق الكريمة  )


Firman ALLOOH SWT di Suuroh Al Ahzaab Aayah 21 :


لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلْيَوْمَ ٱلْأخرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرًا



Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak mengingat ALLOOH.

مَا مِنْ شيْئ ٍأَثْقَلُ فِيْ مِيْزَانِ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ


Tidak ada sesuatu yang lebih berat pada timbangan (kebajikan) seorang mukmin pada hari kiamat daripada akhlak yang mulia (HR At-Tirmidzi).


3. Lahan berbuat Kebajikan dengan semangat فاستبقواالخيرات (Maka berlomba-lombalah kalian dalam hal Kebajikan !).

           Firman ALLOOH SWT di Suuroh Al Baqoroh 148 :

وَلِكُلٍّ وِّجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيْهَا فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرٰتِۗ اَيْنَ مَا تَكُوْنُوْا يَأْتِ بِكُمُ اللّٰهُ جَمِيْعًاۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْر

Bagi setiap umat ada kiblat yang dia menghadap ke arahnya. Maka,  berlomba-lombalah kamu dalam berbagai kebajikan. Di mana saja kamu berada, pasti Allah akan mengumpulkan kamu semuanya. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.


Nabii Muhammad S’AW bersabda :

اتَّقِ اللَّهِ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعْ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

Bertaqwaalah kamu kepada ALLOOH dimanapun kamu berada! Iringilah kejelekan dengan kebaikan, niscaya dia akan menghapuskannya! Pergaulilah manusia dengan achlaaq yang mulia ! (HR. Turmudzii).

 

4. Saling berkolaborasi untuk berbuat Kebajikan dalam wadah Rukun “IIMAAN, ISLAAM & IHSAAN” menuju TAQWAA.


Firman ALLOOH SWT di Suuroh Al Maa-idah Aaayah 2 :

 

وتعاونواعلى البر والتقوى ولا تعاونوا على الإثم و العدوان

 

Dan saling tolong menolonglah kalian dalam hal kebaikan & taqwaa dan janganlah saling tolong menolong kalian dalam hal dosa & permusuhan)

 

35. Benteng Keluarga & Anak Cucu agar tidak terperosok dalam perbuatan Aneka Dosa & bisa selamat dari Siksa Api Neraka.

قوا أنغسكم و أهليكم نارا (أ لتحريم : ٦)

Selamatkanlah Diri Kalian dan Keluiarga Kalian dari Api Neraka (At Tahriim :  6)


    6. Benteng Keluarga & Anak Cucu agar selalu mampu menjalankan Rukun “IIMAAN, ISLAAM & IHSAAN” dalam rangka menuju TAQWAA.

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْر

 (١٣ ألحجرات)  

Hai Manusia, sesungguhnya KAMI telah menciptakan kamu dari Seorang Laki-Laki dan Seorang Perempuan dan menjadikan kamu berBangsa-Bangsa dan berSuku-Suku supaya kamu saling kenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi ALLOOH adalah orang yang Paling TAQWAA di antara kalian. Sesungguhnya ALLOOH Maha Mengetahui lagi Maha Mengkenali.

Firman ALLOOH SWT dalam Suuroh An Nisaa” (4:1) :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا

 وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَائلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

Hai sekalian manusia, bertaqwaalah kepada Rabbmu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allâh menciptakan isterinya; dan dari keduanya Allâh memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allâh yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allâh selalu menjaga dan mengawasi kamu. 


57. Sebagai bagian dari Trik & Tips ikut serta aktif dalam menciptakan Keluarga Sakiinah ma Waddah wa Rohmah sebagai embrio dari terciptanya Masyarakat & Negara yang tenang, tentram, damai, harmonis, toleransi yang proporsional & obyektif, saling (mengkuatkan, menopang, mendukung, melengkapi & menyempurnakan) dalam bentuk kesatuan & persatuan yang kuat & kokoh dalam hal kebaikan baik Urusan Dunia maupun Aachiroh meski di dalamnya terdapat kemajemukan dalam Pemahaman & Praktek RUKUN “IIMAN, ISLAAM, IHSAAN” menuju “TAQWALLOOH”

     Firman ALLOOH SWT di Suuroh Aali ‘Imroon Aayah 103 :

وَٱعْتَصِمُوا۟ بِحَبْلِ ٱللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا۟ ۚ وَٱذْكُرُوا۟ نِعْمَتَ ٱللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَآءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِۦٓ إِخْوَٰنًا وَكُنتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ ٱلنَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمْ أيَٰتِهِۦ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Dan berpeganglah Kalian semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat ALLOOH kepada Kalian ketika Kalian dahulu (masa Jahiliyyah) bermusuh-musuhan, maka ALLOOH mempersatukan hati Kalian, lalu menjadilah Kalian karena ni’mah ALLOOH, orang-orang yang bersaudara; dan Kalian telah berada di tepi jurang neraka, lalu ALLOOH menyelamatkan Kalian dari padanya. Demikianlah ALLOOH menerangkan Tanda-Tanda KemahasegalaanNYA kepada Kalian, agar Kalian mendapat petunjuk.

     Dan  berpegang teguhlah Kalian terhadap Tali AGAMA ALLOOH “ISLAAM” & janganlah sampai terpecah-belah !


68. Agar selalu mampu bersyukur kepada ALLOOH SWT atas segala ni’mahNYA termasuk keberadaan diri di Dunia ini yang pada dasarnya hanya seorang yakni Nabii Adam ‘As, lalu diciptakan Hawwaa” ‘AS, lalu berkembang di seluruh Dunia hingga muncul Diri Kita & tidak (bangga overdosis, merendahkan orang/suku bangsa lain, menganggap diri paling mulia & unggul Pemegang Kunci Syurga, sombong & dzoolim) sehingga jauh dari lahirnya segala bentuk kemungkaran & kerusakan baik Diri Sendiri, Keluarga, Masyarakat, Nusa, Bangsa & Agama..

  Firman ALLOOH SWT dalam Suuroh Al A’roof (7:189) :

هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَجَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا لِيَسْكُنَ إِلَيْهَا

Dialah yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya dia menciptakan istrinya, agar dia merasa senang kepadanya …


9. Ingat Asal-Usul Bangsa Manusia, Banii Adam wa Hawwaa”, Bangsa Nusantara NKRI Pancasila, Leluhur Keluarga Besar & Diri Pribadi, Janganlah Jangan Sampai Sombong Lupa Diri “Darat, Laut & Udara”.

         Lalu di Suuroh At Thooriq 86:5-14 :

         5. Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apa dia diciptakan.

          خُلِقَ مِنۡ مَّآءٍ دَافِقٍۙ

          6. Dia diciptakan dari air (mani) yang terpancar,

          يَّخۡرُجُ مِنۡۢ بَيۡنِ الصُّلۡبِ وَالتَّرَآٮِٕبِؕ

          7. yang keluar dari antara tulang punggung (sulbi) dan tulang dada.

          اِنَّهٗ عَلٰى رَجۡعِهٖ لَقَادِرٌؕ

          8. Sungguh, Allah benar-benar kuasa untuk mengembalikannya (hidup setelah mati).

         يَوۡمَ تُبۡلَى السَّرَآٮِٕرُۙ‏

           9. Pada hari ditampakkan segala rahasia,

          فَمَا لَهٗ مِنۡ قُوَّةٍ وَّلَا نَاصِرٍؕ

           10. maka manusia tidak lagi mempunyai suatu kekuatan dan tidak (pula) ada penolong.

            وَالسَّمَآءِ ذَاتِ الرَّجۡعِۙ‏

           11. Demi langit yang mengandung hujan,

            وَالۡاَرۡضِ ذَاتِ الصَّدۡعِۙ

            12. dan bumi yang mempunyai tumbuh-tumbuhan,

            اِنَّهٗ لَقَوۡلٌ فَصۡلٌۙ

           13. sungguh, (Al-Qur'an) itu benar-benar firman pemisah (antara yang hak dan yang batil),

            وَّمَا هُوَ بِالۡهَزۡلِؕ

           14. dan (Al-Qur'an) itu bukanlah sendagurauan.

           اِنَّهُمۡ يَكِيۡدُوۡنَ كَيۡدًا

     

Firman ALLOOH SWT di Suuroh Al An’aam 98 :

وَ هُوَ الَّذِىۡۤ اَنۡشَاَكُمۡ مِّنۡ نَّفۡسٍ وَّاحِدَةٍ فَمُسۡتَقَرٌّ وَّمُسۡتَوۡدَعٌ‌ ؕ قَدۡ فَصَّلۡنَا الۡاٰيٰتِ لِقَوۡمٍ يَّفۡقَهُوۡنَ

     Dan Dialah yang menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), maka (bagimu) ada tempat menetap dan tempat simpanan. Sesungguhnya telah Kami jelaskan tanda-tanda (kebesaran Kami) kepada orang-orang yang mengetahui.

Nabii Muhammad S’AW bersabda  tentang prinsip-prinsip hak-hak manusia yang disampai­kan ketika  Haji Wada' (Perpisahan) :

يَااَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ رَبَّكُمْ وَاحِدٌ ٬ وَاِنَّ اَبَاكُمْ وَاحِدٌ ٬ أَلاَ لاَ فَضْلَ لِعَرَبِيٍّ عَلَى

 عَجَمِيٍّ ٬ وَلاَ لِعَجَمِيٍّ عَلَى عَرَبِيٍّ وَلاَلأَحْمَرَ عَلَى أَسْوَدَ٬ وَلاَ لأَسْوَدَ عَلَى أَحْمَرَإِلاَّ بِالتَّقْوَى


Wahai manusia, sesungguhnya Tuhanmu adalah satu. Bapa­mu adalah satu. Ketahuilah, tidak ada keutamaan bagi bangsa Arab atas bangsa non-Arab, tidak pula non-Arab atas bangsa Arab, tidak pula orang Merah atas yang Hitam, tidak pula Yang Hitam atas yang Merah kecuali dengan Taqwaa. (H.R. Al- Baihaqii).

Nasab yaitu keturunan atau kerabat yang merupakan pertalian kekeluargaan berdasarkan hubungan darah melalui akad perkawinan yang sah. 

Kata Nasab di dalam Al-Qur’an termaktub dalam tiga tempat yakni dalam Suuroh Al Mu”minuun : 101, Suuroh Al Furqoon : 54, dan Suuroh An Nisaa” : 23.

       Al Furqoon 54 :

وَهُوَ الَّذِيْ خَلَقَ مِنَ الْمَاۤءِ بَشَرًا فَجَعَلَهٗ نَسَبًا وَّصِهْرًاۗ وَكَانَ رَبُّكَ قَدِيْرًا

       DIA-lah (pula) yang menciptakan manusia dari air (mani). Lalu, Dia menjadikannya (manusia itu   mempunyai) keturunan dan muṣāharah (persemendaan). Tuhanmu adalah Mahakuasa.

       An Nisaa” 23 :

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ اُمَّهٰتُكُمْ وَبَنٰتُكُمْ وَاَخَوٰتُكُمْ وَعَمّٰتُكُمْ وَخٰلٰتُكُمْ وَبَنٰتُ الْاَخِ وَبَنٰتُ الْاُخْتِ وَاُمَّهٰتُكُمُ الّٰتِيْٓ اَرْضَعْنَكُمْ

 وَاَخَوٰتُكُمْ مِّنَ الرَّضَاعَةِ وَاُمَّهٰتُ نِسَاۤىِٕكُمْ وَرَبَاۤىِٕبُكُمُ الّٰتِيْ فِيْ حُجُوْرِكُمْ مِّنْ نِّسَاۤىِٕكُمُ الّٰتِيْ دَخَلْتُمْ بِهِنَّۖ فَاِنْ لَّمْ

 تَكُوْنُوْا دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْۖ وَحَلَاۤىِٕلُ اَبْنَاۤىِٕكُمُ الَّذِيْنَ مِنْ اَصْلَابِكُمْۙ وَاَنْ تَجْمَعُوْا بَيْنَ الْاُخْتَيْنِ اِلَّا مَا

 قَدْ سَلَفَۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا

Diharoomkan/Dilarang Keras atas kalian (menikahi) ibu-ibu kalian, anak-anak perempuan kalian, saudara-saudara perempuan kalian, saudara-saudara perempuan ayah kalian, saudara-saudara perempuan ibu kalian, anak-anak perempuan dari saudara laki-laki kalian, anak-anak perempuan dari saudara perempuan kalian, ibu yang menyusui kalian, saudara-saudara perempuan kalian sesusuan, ibu istri-istri kalian (mertua kalian), anak-anak perempuan dari istri kalian (anak tiri kalian) yang dalam pemeliharaan kalian dari istri yang telah kalian campuri/setubuhi, tetapi jikalau kalian belum bercampur/bersetubuh dengan istri kalian itu (dan sudah kalian ceraikan), tidak berdosa bagi kalian (menikahinya), (dan diharoomkan bagi kalian) istri-istri anak kandung kalian (menantu kalian), dan (diharoomkan pula) mengumpulkan (dalam pernikahan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali (kejadian pada masa) yang telah lampau. Sesungguhnya ALOLOOH adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

 

 10. Benteng Keluarga & Anak Cucu Agar Selalu menjaga Silatur Rohmi.

 Sabda Nabii Muhammad S’AW :

أيها الناس ، أفشوا السلام ، وأطعموا الطعام ، وصلوا الأرحام ، وصلُّوا بالليل والناس نيام , تدخلوا الجنة بسلام

 “Wahai manusia, sebarkanlah salaam, berikanlah makan, sambunglah silaturrohmi, sholatlah pada malam hari ketika orang-orang sedang tidur, kalian akan masuk Syurga dengan selamat,” (HR. Ibnu Maajah &  At Tirmidzii).

9. Benteng Keluarga & Anak Cucu agar mampu menjadi Miniatur Kehidupan  Masyarakat yang harmonis, tidak mudah terpecah belah karena selalu menjalankan Hukum ALLOOH & ROSUUL-NYA.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ

 إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا  (ألنساء ٥٩)

 

11. Terhindar dari Hubbud Dun-yaa sumber segala problematika Manusia & Penghantar Bencana, Penderitaan & Kesengsaraan.

 

ROSUULULLOOH S’AW bersabda:

إِنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ إلِىَ صُوَرِكُمْ وَلاَ إِلىَ أَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

Sesungguhnya Allâh tidak melihat kepada fisik dan kekayaan kalian. Akan tetapi melihat hati dan amalan kalian [HR. Muslim no. 2564]

 

112. Tidak Terjebak Dalam Fanatik Gila Silsilah & Nasab & Merasa Diri Bebas Berbuat Aneka Dosa Yang Berlaku Bagi Seluruh Banii Adam wa Hawwaa” Tanpa Kecuali & Seluruh Hubungan Pertalian Silsilah & Nasab Kelak Akan Hilang Terputus Lenyap.

     Apanya yang dibangga-banggakan & disombongkan dari Silsilah & Nasab karena kelak kesemuanya itu tiada      gunanya samasekali jikalau sudah berada di Padang Mahsyar untuk diHisaab ‘Amal Baik Buruknya.

ALLOOH SWT berfirman dalam Suuroh Al Mu’minuun 101 :

فَإِذَا نُفِخَ فِی ٱلصُّورِ فَلَاۤ أَنسَابَ بَیۡنَهُمۡ یَوۡمَئذࣲ وَلَا یَتَسَاۤءَلُونَ

Jikalau trompet sangkakala ditiup, maka tidak ada lagi pertalian keluarga di antara mereka pada hari itu (Hari Kiamat), dan tidak (pula) mereka saling bertanya.

 

Atas dasar itu, maka janganlah sampai terjebak dalam membangga-banggakan Silsilah & Nasab karena kelak di Hari Hisaab ‘Amal Baik Buruk, Raportan di Padang Mahsyar bukan Ayah, Ibu, Kakek, Leluhur terutama yang menjadi Pembesar ‘Aalim ‘Ulamaa” & ‘Umaroo” Kita yang bisa menyelamatkannya Nasib Syurga ataukah Neraka setiap Individu, itu hanyalah kualitas & kuantitas IIMAAN, ISLAAM, IHSAAN yang berbuah TAQWAA.

Firman ALLOOH SWT dalam Suuroh ‘Abasa 33-37 :

فَإِذَا جَاۤءَتِ ٱلصَّاۤخَّةُ ، یَوۡمَ یَفِرُّ ٱلۡمَرۡءُ مِنۡ أَخِیهِ ، وَأُمِّهِ وَأَبِیهِ ، وَصَـاحِبَتِهِۦ وَبَنِیهِ ،  لِكُلِّ ٱمۡرِئࣲ مِّنۡهُمۡ یَوۡمَىِٕذࣲ شَأۡنࣱ یُغۡنِیهِ

Maka jikalau terompet sangkakala sudah ditiup, Pada hari itu manusia lari dari saudaranya, dan dari ibu dan bapaknya, dan dari istri dan anak-anaknya.(‘Abasa : 33-36)

Saat tiupan sangkakala yang kedua, orang-orang lari dari saudaranya, lari dari ayah ibunya, lari dari istri dan anaknya. Karena mereka sibuk memikirkan dirinya masing-masing. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya.

 

Firman ALLOOH dalam Suuroh Al Hujuroot 13 :

إِنَّ أَكۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَاكُمۡۚ

Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling berTaqwaa.

 

Banyak orang yang membangga-banggakan nasab ketika di dunia. Padahal kelak di hari kiamat bukan ayah, ibu, kakek, kita yang bisa menyelamatkan.

فَإِذَا جَاۤءَتِ ٱلصَّاۤخَّةُ (33) یَوۡمَ یَفِرُّ ٱلۡمَرۡءُ مِنۡ أَخِیهِ (34) وَأُمِّهِ وَأَبِیهِ (35) وَصَـٰاحِبَتِهِۦ وَبَنِیهِ (36)

Pada hari itu manusia lari dari saudaranya, dan dari ibu dan bapaknya, dan dari istri dan anak-anaknya. (‘Abasa: 33-36)

Saat tiupan Terompet Sangkakala yang ke dua kalinya, Setiap Pribadi Orang  lari dari Saudaranya, lari dari Ayah Ibunya, lari dari Isteri dan Anak Cucunya, lari dari Para Sahabatnya, lari dari Para Tetangganya, lari dari Para Gurunya/Kiyainya/Nyainya karena Seluruh dari Mereka sibuk memikirkan Nasib Dirinya Masing-Masing, Raport Bagus ataukah Raport Jelek, Sukses ataukah Gagal pada saat meniti di atas Jembatan Shiroothol Mustaqiim yang lebarnya hanyalah sebatas ukuran Rambut Manusia Dibelah 7 Bagian, Neraka ataukah Syurga ?! Segala bentuk glamournya dan kemegahan kehidupan Dunia sudah tidak berarti lagi alias tiada guna lagi termasuk URUSAN SILSILAH KELUARGA, SILSILAH LELUHUR, NASAB KELUARGA & NASAB LELUHUR.

 

لِكُلِّ ٱمۡرِئࣲ مِّنۡهُمۡ یَوۡمَىِٕذࣲ شَأۡنࣱ یُغۡنِیهِ

Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya. (‘Abasa: 37)

Maka ALLOOH menjamin orang masuk Syurga itu bukan karena Nasabnya.


Adapun hadits yang dibawakan oleh Imam An-Nawawi Rahimahullah dalam bab ini, yaitu hadits Abuu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu. Beliau berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

 اثنتان في الناس هما بهم كفر: الطعن في النسب، والنياحة على الميت

“Ada dua perbuatan yang apabila ini dilakukan oleh kaum Muslimin bisa menjerumuskan kepada kekufuran; mencela nasab seseorang, dan meratapi mayat.” (HR. Muslim).

 

Marilah kita untuk selalu memperbaiki diri kita. Siapa pun kita, keturunan siapa, bagaimanapun nasab kita. Karena yang dilihat oleh Allah bukan fisik kita.

وَعَنْ أبي هُريْرة عَبْدِ الرَّحْمن بْنِ صخْرٍ رضي الله عَنْهُ قَالَ : قالَ رَسُولُ اللهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : “إِنَّ الله لا يَنْظُرُ إِلى أَجْسامِكْم، وَلا إِلى صُوَرِكُمْ ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وأعمالكم “رواه مسلم.

Dari Sahabat Abi Hurairah ‘Abdurrahman bin Shoher mengkatakan, ROSUULULLOOH S'AW bersabda:

“Sejatinya Allah tidak melihat pada tubuh atau jasad kalian, juga tidak melihat pada wajah kalian, tetapi Dia melihat pada hati kalian dan amal kalian” [HR Muslim]

Dari Sa'ad bin Malik radiallahu anhu bahawa Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda :

ﻣْﻦ ادﱠَﻋﻰ ِإَلىَ ﻏِيرَأِﺑﻴِﻪَ وُﻫَﻮ ﻳَﻌَﻠُﻢ َأﻧﱠُﻪَ ﻏُيرَأِﺑﻴِﻪَ ﻓﺎَلجنةﻋَﻠْﻴِﻪَ ﺣَﺮاٌم

Siapa saja yang mendakwa untuk menisbahkan kepada selain kepada Ayahnya, sedangkan dia mengetahui bahwasanya orang itu bukan Ayahnya, maka Haroom kepadanya untuk menghuni Syurga.

Firman ALLOOH SWT di  Suuroh Al Isroo” Aayah 32 :

َوَﻻﺗَـْﻘَﺮُﺑﻮ۟اٱﻟِّﺰَٰٓنى ِۖإﻧﱠُﻪۥَﻛﺎَنَﻓـٰـِﺤَﺸًﺔَوَﺳٓﺎَءَﺳِﺒﻴًﻼ

Dan janganlah kamu menghampiri zina, sesungguhnya zina itu adalah satu perbuatan yang keji dan satu jalan yang jelek/jahat yang membawa kerusakan (HR. Imaam Abu Daawud).


Hormat Bakti Orang Tua Terutama Ibu

Suuroh An Naḥl Aayah 78 : ْ

وَاللّٰهُ اَخْرَجَكُمْ مِّنْۢ بُطُوْنِ اُمَّهٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ شَيْـًٔاۙ وَّجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْاَبْصَارَ وَالْاَفْـِٕدَةَۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ ۝

Dan ALLOOH telah mengkeluarkan kalian dari perut Ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun dan DIA menjadikan bagi kalian pendengaran, penglihatan, dan hati nurani agar kalian bersyukur.

وَ قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنِ ادَّعَى نَسَبًا لَا يَعْرِفُ كَفَرَ بِاللَّهِ وَ مَنِ اتْتَفَى مِنْ نَسَبٍ وَ اِنْ دَقَّ كَفَرَ بِاللَّهِ

(رواه الطبراني)

ROSUULULLOOH  S’AW bersabda,”Siapa saja yang mengaku-ngaku nasab (keturunan) yang dia sendiri tidak tahu, maka jadi Kaafirlah dia kepada ALLOOH,  dan Siapapun yang  mengingkari nasabnya walaupun samar nasab itu, maka Kaafirlah juga dia kepada ALLOOH” (HR. Thobaroonii/Thobroonii).

وَ رَوَى أَحمَدُ : إِنَّ لِلَّهِ تَعَالَى عِبَادًا لَا يُكَلِّمُهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَ لَا يُزَكِّيْهِمْ وَ لَا يَنْظُرُ اِلَيْهِمْ وَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيْمٌ ، قِيْلَ وَ مَنْ اُولَئِكَ يَا رَسُوْلَ اللَّهِ ؟ قَالَ مُتَبَرِّئٌ مِنْ وَالِدَيْهِ رَاغِبٌ عَنْهُمَا وَ مُتَبَرَّئٌ مِنْ وَلَدِهِ وَ رَجُلٌ أَنْعَمَ عَلَيْهِم قَوْمٌ فَكَفَرَ نَعْمَتَهُمْ وَ تَبَرَّأَ مِنْهُمْ ، وَالْمُرَادُ الْاِنْعَامُ بِالْعِتْقِ   (رواه أحمد)  .

Dan diceritakan Imaam Ahmad : Sesungguhnya ALLOOH  Ta'aalaa itu mempunyai Hamba, yang  tidak akan berbicara ALLOOH dengan Mereka pada Hari Qiyaamah, dan ALLOOH tidak akan menyucikan dosa Mereka, dan ALLOOH tidak memandang Mereka (dengan rasa kasih sayang), dan bagi Hamba itu diberikan siksaan yang pedih. Sahabat bertanya: siapa Mereka itu ROSUULULLOOH ? 

Beliau menjawab,”Yaitu orang yang menyatakan lepas  diri dari kedua orang tuanya (tidak mengakui orang tua) marah kepada orang tuanya. Orang yang lepas tangan dari anaknya (tidak mengakui anak), dan orang yang diberi  kenikmatan oleh Suatu Qoum lalu dia ingkari dari Mereka serta melepaskan diri dari Mereka. Yang dimaksud  dengan “ memberikan kenikmatan” di sini adalah “Kemerdekaan (memerdekakan budak) - (HR. Ahmad).

QS. Al-A'roof 178 :

مَنْ يَّهْدِ اللّٰهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِيْۚ وَمَنْ يُّضْلِلْ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْخٰسِرُوْنَ

Siapa saja yang diberi petunjuk oleh ALLOOH, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan siapa saja yang disesatkan ALLOOH, maka Merekalah orang-orang yang rugi.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَأْخُذَ اللَّهُ شَرِيطَتَهُ مِنْ أَهْلِ الأَرْضِ ، فَيَبْقَى عَجَاجٌ لا يَعْرِفُونَ مَعْرُوفًا ، وَلا يُنْكِرُونَ مُنْكَرًا

 

“Tidaklah Hari Kiamat akan datang sampai Allah ‘mengambil’ orang-orang yang baik dan beragama dari penduduk bumi sehingga yang tersisa hanyalah orang-orang yang hina dan tidak memiliki kebaikan sama sekali. Mereka tidak mengetahui yang makruf dan tidak mengingkari yang mungkar.” (HR Ahmad).

 

Larangan Membangga-Banggakan Silsilah & Nasab, Sekaligus Larangan Mencelanya 

 

ﻭﻋﻦ ﺳﻠﻤﺎﻥ ، ﻋﻦ ﻧﺒﻲ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ  ﻗﺎﻝ ، ﺛﻼﺛﺔ ﻣﻦ اﻟﺠﺎﻫﻠﻴﺔ : اﻟﻔﺨﺮ ﻓﻲ اﻷﺣﺴﺎﺏ ، ﻭاﻟﻄﻌﻦ ﻓﻲ اﻷﻧﺴﺎﺏ ، ﻭاﻟﻨﻴﺎﺣﺔ ( ﺭﻭاﻩ اﻟﻄﺒﺮاﻧﻲ ﻓﻲ اﻟﻜﺒﻴﺮ)

Dari Salmaan, dari Nabii Muhammad S’AW bersabda,”Ada tiga dari bagian Jahiliyyah yaitu membanggakan keturunan, mencela nasab dan meratapi kematian" (HR Thobroonii dalam hal Kesombongan).

ﻭﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﻫﺮﻳﺮﺓ ، ﻋﻦ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﺎﻝ : ﺃﺭﺑﻊ ﻓﻲ ﺃﻣﺘﻲ ﻟﻴﺲ ﻫﻢ ﺑﺘﺎﺭﻛﻴﻬﺎ : اﻟﻔﺨﺮ ﻓﻲ اﻷﺣﺴﺎﺏ ، ﻭاﻟﻄﻌﻦ ﻓﻲ اﻷﻧﺴﺎﺏ ، ﻭاﻟﻨﻴﺎﺣﺔ ، ﻗﻠﺖ: ﻫﻮ ﻓﻲ اﻟﺼﺤﻴﺢ ﺑﺎﺧﺘﺼﺎﺭ (ﺭﻭاﻩ اﻟﺒﺰاﺭ، ﻭﺇﺳﻨﺎﺩﻩ ﺣﺴﻦ).

Dari Abu Huroiroh bahwasanya ROSUULULLOOH S’AW bersabda,"Empat hal yang tidak akan pernah bisa ditinggalkan oleh Ummatku : Bangga dengan keturunan, Mencela nasab (sendiri & orang lain) dan Meratapi kematian" (HR. Al Bazzar, sanadnya Hasan).

Saya lebih senang dengan orang yang tidak memiliki nasab keturunan orang besar tapi ilmu dan amalnya berguna bagi banyak orang. Di sini berlaku hadis;

ﻭﻣﻦ ﺑﻄﺄ ﺑﻪ ﻋﻤﻠﻪ ﻟﻢ ﻳﺴﺮﻉ ﺑﻪ ﻧﺴﺒﻪ

"Siapapun yang amalnya telat maka tidak dapat mempercepat kedudukan nasabnya" (HR Muslim).

 

Boleh Bangga Silsilah & Nasab Tetapi Hanya Sebatas Rasa Syukuur & Rem Agar Tidak Melanggar Syarii’atul ISLAAM serta Selalu Berada Di Jalan Lurus Sekaligus Pemicu Semangat Perjuangan, Pengorbanan & Dedikasi Lahir Baathin, Dunia Aachiroh Dalam Kerangka 'IBAADAH "Vertikal & Horisontal"

 

Bangga Nasab boleh, namun terlarang & terlaknat membangga-banggakan Nasabnya ! 

Ada ‘Aalim ‘Ulamaa” Besar di Era Taabiin namanya Imaam Hasan Al-Bashrii dan bapaknya seorang MajusiPenyembah Api, namanya Yasar. Imaam Hasan Al-Bashri lahir di Madiinah, sementara hidupnya di Kota Bashroo. Pada suatu waktu ada orang menghina,”Kamu walaupun ‘Ulamaa” Besar Sayyidut Taabiin, tetapi kamu hanyalah anaknya seorang tahanan perang atau budak. Beliau menjawab,”Begini … Janganlah menghina Ayahku ya, jelek-jelek Ayahku punya anak seperti Aku, dan belum tentu Aku punya anak seperti Aku … !”.

Imaam 'Alii ini adalah Cicit ROSUULULLOOH S'AW, orang yang sangat dekat dengan ROSUULULLOOH S'AW, Generasi ke-4. Meskipunu demikian, Imaam 'Alii tidak pernah membanggakan nasabnya apalagi membangga-banggakannya karena Beliau lebih memikirkan dirinya sendiri. 

Sungguh amat sangat disayangkan, sekarang ini banyak orang yang membangga-banggakan Nasabnya, bahkan menganggap Dirinya  & Kelompoknya Saja yang mampu memberikan SYAFAA'AH DI PADANG MAHSYAR KELAK untuk ditentukan Nasibnya,"Syurga atau Neraka !", lalu dibumbui dengan Aneka Kisah Churofat Sesat Menyesatkan yang bukan masuk Kategori Karoomah.  Lebih tragis lagi dijadikan senjata untuk merendahkan Orang Lain, minta dihargai dan dihomati bagaikan Raja Diraja Yang Agung, Dijadikan Senjata Untuk Mendawir, Memalak & Ploroti Harta Bendanya, bahkan Isterinya juga dirampas dengan alasan BISA KUWALAT jikalau tidak mau menuruti keinginannya. Anehnya diperlakukan seperti itu ya manut-manut bin patuh-patuh saja kayak MAYAT HIDUP BIN ZOMBI, hilang lenyap AKAL SEHATNYA, lenyap pula 'Ilmu-'Ilmu Pondok Pesantrennya padhal punya Aneka Kitaab Kuning. Lantas buat apa punya Kitaab-Kitaab tersebut ?!

Amat sangat disayangkan pula, Mereka yang paham HUKUM FIQIH ISLAAM dengan tumpukan Kitaab Kuningnya yang luar biasa banyaknya malah pilih diam atau justeru ikut larut di dalamnya yang seharusnya mampu sodorkan solusi yang bijaksana, bijaksini dan bijaksitu !

Mereka tidak sadar ada yang lebih penting dari Nasab yakni Nasib baik Lahir maupun Baathin, Jangka Pendek, Jangka Menengah maupun Jangka Panjang, Dunia maupun Aachiroh, Syurga maupun Neraka ! 

Ada orang yang nasabnya bagus, tapi nasibnya jelek, maka nasab tidak ada artinya ! 

Ada orang mungkin nasibnya bagus, tapi nasabnya tidak. Mungkin ini bisa lebih beruntung daripada orang yang bernasab bagus, apalgi hanya bermodalkan AKUISASI NASAB YANG TIDAK DIIMBANGI KEMAMPUAN 'ILMU AGAMA ISLAAM YANG CUKUP, BAHKAN TIDAK DIIMBANGI DENGAN ACHLAAQUL KARIIMAH !

Firman ALLOOH SWTdi Suuroh Al Hujuroot : 13 : 

يَا أيَُّـهَا النَّاسُ اِنَّّا خََّلَقْنَكُمْ مِّنْ ذكََر ٍوَّ اُنْثىَ وَجَعَلنَكُمْ شُعُوْابًا وًَّ قَـبَـآئِلَ لِتَـعَارَفُـوْا  اِنَّ اكَْرَمَكُمْ عِنْدَ الّلِّهِ اَتْقكُمْ  اِنَّ الّلَّه عَلِيْمٌ خَبِيْـرٌ

     Hai manusia sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki – laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku – suku supaya kamu saling kenal – mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dan Maha Mengkenali (QS. Al Hujurat : 13).

 

 

وَاتَّـقُوا الّلَّه الَّذِىْ تَسَـآئلُوْنَ بِـه وَاْلَارْحَامَ اِنَّ الّله كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبـا

 

     Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama – Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu (QS. An Nisa’ : 1).

 

 

الَّذِيْنَ يُـوْفُـوْنَ بِعَهْدِالّلِّ وَلَايَـنْـقُضُوْنَ الميِْـثَاقَ وَالَّذِيْنَ يَصِ لُوْنَ مَآ اَمَرَالّلُّ بِـه اَنْ يُـوْ صَـلَ وَيَشََْوْنَ رَبَّـهُمْ وَيَاََفُـوْنَ سُوْءَ الْسَِْـابِ

 

     Orang – orang yang memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian. Dan orang – orang yang menghubungkan apa – apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkannya, dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk. (QS. Ar Ra’d : 20 – 21).

 

 

الَّذِيْنَ يَـنْـقُضُونَ عَهْدَالّلِّ مِنْ بَـعْدِ مِيْـثَاقِه وَيَـقْطَعُوْنَ مَآ اَمَرَالّلُّ بِه اَنْ يُّـوْصَلَ وَيُـفْسِدُوْنَ فِىاْ لَارْضِ اُلئِـكَ هُمُ الْسِْرُوْنَ

 

     (Yaitu) orang – orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang – orang yang rugi (QS. Al Baqarah : 27).

 

 

وَالَّذِيْنَ امَنُـوْاوَاتَّـبَـعَتْـهُمْ ذُرِّيَّـتُـهُمْ بِيًِْاَْنٍ اَلْقَْْنَابِمِِْ ذُرِّيَّـتَـهُمْ وَمَآ اَلَتْـنَاهُمْ مِّنْ عَمَلِهِمْ مِّنْ شَيْ ءٍ كُلُّ امْرِئٍ بِـَِاكَسَبَ رِهِيٌْ

 

     Dan orang – orang yang beriman dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan meraka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap – tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya (QS. Ath Thuur : 21).

 

 

قَالَ رَسُوْلُ الّلِّه صَلَّى الّلِّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَقِمِ الـصَّلَاةَ وَأَدِّ الزَّكَاةَ وَصُمْ رَمَضَانَ وَحَجِّ اْلبَـيْتَ وَاَعْتَمِرْوَبِرَّوَالِدَيْكَ وَصِلْ رَحِمَكََ وَأَقَـرّ ضَيْـفَكَ وَأْمُرْبِالًْمَعْرُوْفِ وَانْهَ عَنِ اْلمنْكَرِوَزُلْ مَعَ الْقَِّْ حَيْثُ زَالَ

         ُ

     Rasulullah bersabda : Dirikanlah sholaah, tunaikanlah zakaah dan berpuasalah pada bulan Romadloon dan kerjakanlah ‘ibaadah hajji dan lakukanlah ‘umroh di Baitullooh dan berbuat baiklah kepada kedua orang tuamu, dan sambunglah familimu dan hormatilah tamumu, perintahkanlah pada kebajikan dan cegahlah dari kemungkaran dan beradalah kamu bersama kebenaran di mana ia berada (Riwayat Imam Bukhori dari Ibnu Abbas, dari kitab “Al – Jamiusshoghir”).

 

 

قَالَ رَسُوْلُ الّلِّه صَلَّى الّلِّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اِعْرِفُـُوْا أَنْسَـابَكُمْ تَصِلُوْا اَرْحَامَكُمْ فَاءِنَّهُ لَاقُـرْبَ لِلرَّحِمِ اِذَاقُطِعَتْ وَاِنْ كَانَتْ قَرِيْـبَـة وَلَا بُـعْدَلَـَاَاِذَاوُصِلَتْ وَاِنْ كَانَتْ بَعِيْدَة

 

     Rasulullah bersabda : Kenalilah nasab-nasabmu maka kamu dapat menyambung familimu. Sesungguhnya tidak dekat dalam famili apabila ia diputus, meskipun sebenarnya dekat, dan tidak jauh dalam famili kalau disambung kendati ia sebenarnya jauh. (Riwayat Imam Bukhori dari Ibnu Abbas, dari kitab “Al – Jamiusshoghir”).

 

 

فالَ رَسُوْلُ الّلِّه صَلَّى الّلِّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :   اِذَا مَاتَ ابْنُ أدَمَ اِنْـقَطَعَ عَمَلُهُ اِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُـنْـتَـفَعُ  بِه    أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ  يدعوا له    (رواه مسلم)

 

    

     ROSUULULLOOH S'AW bersabda,"Anak Cucu Adam telah wafat, maka terputuslah 'amalnya kecuali dari tiga hal: Shodaqoh Jaariyah, 'Ilmu yang di'amalkan membawa kebaikan, atau Anak Cucu  Adam yang Shoolih Shoolihah yang selalu mendo’akan Banii Adam yang telah wafat tadi.

 

Atas dasar itulah, Kajian silsilah ini sekaligus sebagai ajang (shilaturrohim/shilaturrohmi, saling membangun,  saling kuatkan,  saling topang,  saling lengkapi, saling mengayomi,  saling lindungi) dalam bingkai menjalankan Rukun :

  • إيمان 
  • إسلام 
  • إحسان 
  • تقوى

 

Dengan selalu junjung tinggi :

  •  أخلاق الكريمة 
  • فاستبقواالخيرات 
  • وتعاونواعلى البر والتقوى ولا تعاونوا على الإثم و العدوان 

Dengan selalu berjuang dan berkorban melalui aplikasi 'IBAADAH baik Sholaah maupun Sholaah secara Full (Ichlaash,  Dedikasi,   Shobar,  Syukuur,  Tawakkal kepada ALLOOH SWT dalam kondisi situasi yang bagaimanapun. 

Dengan selalu menjaga dan terapkan keseimbangan keselarasan di antara aplikasi :

  •  حبل بالله - Hubungan Vertikal Dengan ALLOOH
  •   Hubungan Horisontal Dengan Manusia Terutama Dua Orang Tua حبل بالناس 
  • Hubungan Horisontal Dengan Segenap Machluuq - حبل بجميع المخلوق 

 

Karena kelak ALLOOH SWT hanya memasukkan Hamba-NYA ke dalam SYURGA-NYA denga segala kenikmatannya di mana sewaktu menjalani Kehidupan Dunia Fana sebelumnya :

  • Dua Mata Tidak Pernah Melihatمالاعين رأت -   
  • ولا أذن سمعت - Dan Dua Telinga Tidak Pernah Mendengarnya 
  •  Dan Hati Tidak Pernah Menduga Merasakannya ولا خشع من قلب بشر -     

 

itu Semuanya atas dasar pertimbangan karena :

إن أكرمكم عند الله أتقاكم !!! 

Pada Akhirnya Seluruh Banii Adam & Hawwaa” Akan Mati & Hanya ‘Amal Shoolih Shoolihah Sebagai Bekal Menuju Aachiroh : Alam Qubur/Barzah/Pangrantunan Dianugerahi “Ni’mah Qubur, Padang Mahsyar Rapor Bagus, Sukses Meniti Jembatan Shiroothol Mustaqiim, Masuk Syurga”

ALLOOH SWT berfirman dalam Suuroh Al Mu”minuun 101 :

فَإِذَا نُفِخَ فِی ٱلصُّورِ فَلَاۤ أَنسَابَ بَیۡنَهُمۡ یَوۡمَئذࣲ وَلَا یَتَسَاۤءَلُونَ

Jikalau terompet sangkakala ditiup, maka tidak ada lagi pertalian keluarga di antara mereka pada hari itu (Hari Kiamat), dan tidak (pula) mereka saling bertanya.

  ، أو علم ينتفع به ، أو ولد صالح يدعو له آدم انقطع عمله إلا من ثلاث : صدقة جارية إذا مات إبن     

 (رواه مسلم)

 

 

Benarkah Nasab Manusia Hanya Menuju Ayahnya, Sedangkan Ibunya Tidak  ?!

Sudah menjadi Pemahaman Mayoritas Ummah ISLAAM terutgama Indonesia bahwasanya Nasab Jalur Wanita putus, padahal Faathimah Az Zahroo" binti Muhammad S'AW kan Wanita terlepas setatusnya sebagai WANITA ISTIMEWA DI BUMI INI tetapi kan tetap WANITA yang TIDAK MEMILIKI SEPERMA alias HANYA PUNYA OVUM.

Memangnya Dunia ini hanya diisi LELAKI saja, WANITA saja atau bahkan BANCI bin BENCONG semua. Tentunya kan tgidaklah seperti itu.

ﻛُﻞُّ ﺳَﺒَﺐٍ ﻭَﻧَﺴَﺐٍ ﻣُﻨْﻘَﻄِﻊٌ ﻳَﻮْﻡَ ﺍْﻟﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ ﺇِﻻَّ ﻣَﺎ ﻛَﺎﻥَ ﻣِﻦْ ﺳَﺒَﺒِﻲْ ﻭَﻧَﺴَﺒِﻰ


Setiap sebab dan nasab akan terputus di hari kiamat kecuali sebabku dan nasabku.” (HR Al Bazzaar, Al Haakim, At Thobaroonyy dan Al Baihaqyy dalam Sunan Al Kabiir).

Berdasarkan hadiits tersebut, jikalau dikaji secara mendalam dari berbagai sudut pandang secara komprehensif, selama itu bersambung kepada NABII MUHAMMAD S’AW, Nasab Sang Anak bisa lewat Bapaknya dan bisa pula lewat Ibunya alias tetap masuk pusaran “SEBABKU & NASABKU”.


Firman ALLLOOH SWT di Suuroh Al Ahzaab 33:40 :

مَّا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَآ أَحَدٍ مِّن رِّجَالِكُمْ وَلَٰكِن رَّسُولَ ٱللَّهِ وَخَاتَمَ ٱلنَّبِيِّينَۗ وَكَانَ ٱللَّهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمًا


"(Nabi) Muhammad bukanlah ayah dari seorang (lelaki) pun di antara kamu, tetapi dia adalah utusan Allah dan penutup para nabi. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu".

إِنَّ ٱللَّهَ ٱصْطَفَىٰٓ ءَادَمَ وَنُوحًا وَالَ إِبْرَٰهِيمَ وَءَالَ عِمْرَٰنَ عَلَى ٱلْعَٰلَمِينَ

Sesungguhnya ALLOOH telah memilih Adam, Nuuh, Keluarga Ibroohiim dan Keluarga 'Imroon melebihi Segala Ummah (di masa mereka masing-masing).

Atas dasar itu, tentunya Dzurriyyah/ Keturunan ada yang Lelaki dan Perempuan. Tidak mungkin Lelaki saja atau Perempuan saja bahkan Banci bin Bencong Seluruhnya.

Hanya saja, masing-masing jenis kelamin itu punya Fungsi, Peran, Tugas, Kolaborasi Saling Terkait & Terikat Sebagai Sistem, Kewajiban & Tujuan yang merupakan Qudroh Iroodah ALLOOH SWT yang harus dipertanggungjawabkan kepadaNYA sekecil apapun.

 

Kesimpulan :

1. Seolah-olah Nabii Muhammad S’AW Egois, Cari Menangnya Sendiri, Gak Terima Taqdiir padahal tidaklah seperti itu. 

2. Seganteng-gantengnya dan segagah-gagahnya Lelaki bibit sepermanya tanpa Isteri tidak akan punya Anak/Keturunan kecuali di Masa Lampau sebagai Hikmah Pelajaran bahwasanya ALLOOH SWT Maha Qudroh & Iroodah.

  • Seperma Lelaki yang paling gagah perkasa & gantengnya serta paling shoolih sundul langit, hafal & paham Seluruh Tafsiir Al Qur-aanul Kariim & Seluruh Kitaab Induk Al Hadiits & ِAl Atsar, diwadahi Gelas Besi Baja Terbaik & Terindah ditaruh di Kulkas atau Freezer atau Dijemur atau Disimpan Dalam Lubang Tanah 7 meter, maka TIDAK AKAN MENJADI ANAK MANUSIA atau HEWAN atau Perpaduan Keduanya.

3. Secantik-cantiknya dan sesubur-suburnya Kaum Wanita tanpa Suami tidak akan punya Keturunan kecuali di Masa Lampau sebagai Hikmah Pelajaran bahwasanya ALLOOH SWT Maha Qudroh & Iroodah !

  •     Ovumnya/ Sel Telurnya Perempuan yang paling cantik, paling sexy, paling semok bahenol, paling shoolihah sundul langit, hafal & paham Seluruh Tafsiir Al Qur-aanul Kariim & Seljuruh Kitaab Induk Al Hadiits, diwadahi Gelas Besi Baja Terbaik Berhias Intan Emas Permata ditaruh di Kulkas atau Freezer atau Dijemur atau Disimpan Dalam Lubang Tanah 7 meter, maka TIDAK AKAN MENJADI ANAK MANUSIA atau HEWAN atau Perpaduan Keduanya. 
Demikian pula Dunia hanya diisi oleh Manusia Banci bin Manusia Bencong. Apa jadinya Dunia ?!?!?!


 

0 komentar:

Posting Komentar